Langsung ke konten utama

Prigi Arisandi Penyelamat Kali Surabaya


Prigi Arisandi adalah seorang aktivis lingkungan di Surabaya, yang memperjuangkan hak-hak warga untuk menikmati kualitas air sungai yang baik. Kenyataan adanya polusi merkuri yang amat tinggi di dalam kandungan kali Surabaya, dan mengakibatkan berbagai penyakit bagi warga, membuatnya terus berpikir untuk menyelamatkan generasi mendatang dari kecacatan dan rendahnya kualitas manusia.

Prigi, bersama lembaganya, Ecoton menjalankan berbagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas air kali yang bersih. Dia pun tak segan-segan melakukan dorongan kepada pemerintah kota Surabaya untuk mengubah kebijakan yang dirasanya merugikan warga. Selain itu, ia pun mengajak generasi yang lebih muda, untuk ikut secara aktif melawan segala bentuk pencemaran dan perusakan lingkungan.

Kerja kerasnya sejak awal 2000-an, berbuah hasil saat dunia internasional menghargainya dengan Goldman  Environmental Prize Award 2011. Penghargaan bagi pahlawan lingkungan dari Amerika Serikat, bagi orang-orang yang berjuang demi lingkungan di tingkat akar rumput. Penghargaan yang memberi hadiah sebesar 150.000 dollar bagi pemenang ini digunakan Prigi Arisandi untuk terus mengembangkan pergerakannya menyelamatkan kali dan kualitas air di Surabaya.


Buku "Indonesia Menggugat" yang berisi tentang keberanian Bung Karno yang dilandasi oleh sebuah kajian ilmiah tentang penindasan, ketidakadilan, dan ketidakbenaran, telah menginspirasi Prigi Arisandi, pria kelahiran Gresik, 24 Januari 1976 ini untuk melakukan perlawanan karena rusaknya Kali Surabaya di Jawa Timur.

”Saya melakukan perlawanan yang mencerahkan,” kata Prigi ketika ditemui di Pintu Air Jagir, Wonokromo, Surabaya, awal April lalu. Perjuangannya sudah memperoleh hasil meski masih kecil, berupa mulai bersihnya Kali Surabaya sepanjang 41 kilometer (Mlirip, Mojokerto-Jagir, Surabaya).

”Saya tak akan berhenti berjuang sebelum Kali Surabaya bersih dari limbah dan sampah sehingga layak dipakai untuk mandi serta mencuci,” kata Prigi, yang awalnya memprotes reklamasi di pantai timur Surabaya untuk perumahan.

Prigi pun terus ”mengenalkan” Kali Surabaya kepada warga. Jika warga tahu apa saja isi sungai sebagai sumber utama air bersih di kota berpenduduk 3,5 juta jiwa itu, katanya, perlahan tetapi pasti mereka akan berhenti mengotori.

Empat tahun lalu dia mengajak warga Surabaya turut dalam sebuah perhelatan bertajuk ”Wisata Limbah, Menyusuri Sungai Terakhir”.

Prigi Arisandi kini Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), sebuah sebuah lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah. Wisata limbah itu dimaksudkan untuk mengajak warga melihat langsung betapa parahnya kondisi sungai yang mengalir di sekitar mereka.

Limbah yang dibuang langsung oleh puluhan pabrik membuat kondisi kali yang membelah Surabaya hingga Gresik itu parah. Tiap hari warna air kali berubah-ubah, dari coklat, hitam, hijau, hingga putih.

”Secara kasatmata saja, kondisi sungai di Surabaya ini sudah parah. Namun tindakan nyata, termasuk penegakan hukum, untuk mengatasi hal itu belum ada,” kata suami Daru Setyorini dan ayah tiga putri itu.

Wisata limbah itu rutenya menyusuri Kali Surabaya dari Gunung Sari hingga kawasan industri Driyorejo, Gresik, sepanjang 16 kilometer. Waktu tempuh selama empat jam adalah bentuk satire karena kian sepinya kepedulian warga Surabaya pada keadaan lingkungan di sekitar mereka.

Di sepanjang penyusuran itu, siswa-siswa menyaksikan warna air yang beragam dan berbagai jenis makhluk hidup di dalam sungai. Mereka juga mendapat penjelasan dari Prigi dan kawan-kawan tentang indikator air yang sudah tercemar limbah serta tingkat daya tahan berbagai makhluk hidup dalam air.

Sepinya reaksi warga kota dan pihak berwenang terhadap rusaknya sungai tak membuat Prigi patah arang. Ia tak pernah berhenti melakukan berbagai hal, dari menggelar aksi massa di jalanan, memberi pernyataan dan peringatan di sejumlah media massa, dihadang petugas, dicibir pemilik pabrik, hingga mendatangi pabrik-pabrik di sepanjang bantaran kali.

Dia tak ubahnya Sunan Kalijaga yang setia menunggu dan menjaga Kali Surabaya. Siapa pun yang ingin melihat betapa buruknya instalasi pembuangan air limbah (IPAL) milik pabrik di sepanjang Kali Surabaya, dia siap mengantarkan ke lokasi.

Sebelum tahun 2008, pipa-pipa besar milik berbagai pabrik membuang langsung limbah ke kali yang menjadi sumber utama bahan baku air minum bagi PDAM Kota Surabaya. Sebuah pabrik kertas terbesar di Jawa Timur, misalnya, mengalirkan sisa pengolahan bubur kertasnya tanpa henti.

Namun, berkat berbagai aksi dan perlawanan yang dilakukan Prigi, kini pabrik umumnya sudah membangun IPAL dan tak lagi membuang langsung limbah cair ke Kali Surabaya. ”Sekarang fokus menyadarkan warga agar tak menjadikan sungai sebagai tempat segala macam sampah,” ujarnya. Dia bahkan sering menggadaikan perhiasan dan mobil untuk memenuhi kebutuhan dana operasional Ecoton, yang kini diawaki delapan orang.

Konsistensi Prigi ini bermula ketika dia dan kawan-kawannya di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, membentuk kelompok pemerhati lingkungan Ecoton pada 1996. ”Kami katanya ilmuwan, tetapi wadah untuk melakukan kajian kritis yang berdasarkan penelitian tak ada di kampus,” kata lulusan S-1 & S-2 Biologi, Fakultas MIPA, Unair, Surabaya ini.

Itu sebabnya, dalam setiap aksinya, Prigi selalu membawa data dan fakta. Pengetahuan di bidang biologi membantu dia bisa berbicara fasih mengenai limbah dan berbagai jenis mikroba dalam air.

Rencana pembentukan Ecoton awalnya ditolak pihak kampus. Meski demikian, Prigi tetap mengajukan pendirian Ecoton. Ia malah mendirikan sendiri kelompok studi itu.

Kegiatan pertama yang dia lakukan adalah mengeksplorasi berbagai tumbuhan di tepi kali dan pantai timur Surabaya. Untuk membiayai eksplorasi, dia membuat proposal penelitian dan mengajukannya ke Ikatan Orang Tua Mahasiswa Unair.

Uang sebesar Rp 250.000 dari pengajuan proposal itu dimanfaatkan Prigi dan 10 teman kampusnya. ”Idenya mencari tahu tentang kekebalan makhluk hidup dan ketebalan hutan mangrove di pantai timur Surabaya. Hasilnya, ternyata pencemaran yang terjadi berawal dari sungai,” ujarnya.

”Perlu ada yang bersuara karena banyak kerusakan,” kata Prigi saat ditanya tentang motivasinya untuk terus berupaya menyelamatkan sungai di Surabaya. Namun, energi terbesar yang mendorong dia adalah sebuah kenangan indah pada masa kecil kala dengan riang dan bebas mandi di sungai yang bersih dari limbah.

”Aku ingin anak-anak juga bisa mandi di sungai seperti pengalamanku dahulu,” ujar lulusan SDN2 Bambe Driyoreji, Gresik ini.

Karena obsesinya itu, Prigi rela menempuh hidup dengan bersahaja. Bahkan, sudah 15 tahun dia menjalani hidup sebagai aktivis lingkungan kendati sering pesimistis apakah bisa hidup dari dunia LSM yang digeluti.

”Tetaplah optimistis bahwa Kali Surabaya bisa jernih karena semakin banyak pihak yang mulai terlibat mengamankan, baik dari aksi nyata maupun lewat kebijakan,” katanya.

Prigi sebenarnya tidak fokus hanya pada Kali Surabaya tapi masalah-masalah lingkungan yang menyangkut pencemaran sungai dan lahan basah. Khusus untuk Kali Surabaya karena letaknya di ibukota propinsi Jawa Timur dan berdampak pada 4 jutaan warga Surabaya, Gresik dan Sidoarjo jadi sebelum membereskan masalah lingkungandi pelosok Nganjuk atau Jombang maka masalah yang dekat dengan kantor Gubernur harus diselesaikan terlebih dahulu. 96% bahan baku PDAM Surabaya berasal dari kali Surabaya, padahal kali Surabaya sejak 1999 hingga 2007 statusnya sungai tercemar berat, diatas 80% industri yang membuang limbah ke sungai tidak memiliki IPAL (Intalasi Pengolahan Air Limbah) yang memadai.

Prigi sangat tertarik dengan isu sungai karena selama ini Pemerintah dan masyarakat umumnya lalai dan mengabaikan pentingnya pengelolaan lingkungan, masyarakat saat ini seolah tutup mata, telinga dan tutup mulut atas kerusakan sungai dan tercemarnya sumber mata air, padahal ada hak-hak anak-anak kita dan anak cucu kita yang harus dilindungi sebaliknya kita kita mengeksploitasi sumberdaya air dan tanpa memperhitungkan cadangan bagi generasi mendatang, kata Prigi.

( sumber; Kompas, ciputra & mangobay )


Komentar

  1. selalu senang dan bangga baca profil individu-individu yang penuh dengan dedikasi seperti ini.... TFS ya maaak

    BalasHapus
  2. Wah, menginspirasi sekali ya. Salut! :)

    BalasHapus
  3. wah, ketemu pak SBY ... inspiratif bgt! :)

    BalasHapus
  4. benar2 menginspirasi. indonesia membutuhkan orang2 seperti pak prigi ini semoga di kota medan juga ada seperti pak prigi ini.

    BalasHapus
  5. Sangat menginspirasi, kira2 bagaimana cara untuk menghubungi pak prigi ?? Terkait semnas mengenai sanitasi. Mhon infonya terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Kisah Ibu Sri Sumarwati (Ketua Umum Forum Komunikasi PKBM Indonesia, mengumpulkan anak-anak jalanan)

Ibu Sri Sumarwati lahir di Yogyakarta 5 Maret 1957, anak pasangan Slamet Sumitro Darmojo dan Sutiyah (keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta) adalah satu contoh sukses pengelola PKBM dengan basis peserta anak-anak jalanan. Yogyakarta tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya memang tak seindah tampakannya. Hati kita akan trenyuh melihat perkampungan kumuh dan anak-anak jalanan berkeliaran di sekitaran Alun-alun, Malioboro, dan Stasiun Lempuyangan. Tetapi beruntunglah, potret buram kota ini, “dirajut” kembali oleh tangan kasih Ibu Sri Sumarwati. Ibu dua orang anak ini, Nur Anita Owiwanti Putri (35 thn) dan Arifin Owiwanto Putra (33 thn), tak bisa tinggal diam melihat anak-anak jalanan itu, ia mencari dan membawa mereka pulang ke rumahnya : Panti Asuhan “Atap Langit”.

Inneke Koesherawati

Tahu Inneke Koesherawati kan ? Artis cantik dan anggun ini dikenal juga sangat religius. Ia sangat menomorsatukan pendidikan agama untuk anaknya. Meski sang anak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, namun Inneke tetap memberikan pendidikan agama bagi mereka. Bagi Inneke agama adalah suatu fundamental penting untuk pertumbuhan anaknya nanti.

Inneke Koesherawati lahir di Jakarta, pada tanggal 13 Desember 1975. Ia dikenal sebagai aktris sinetron, bintang iklan dan juga layar lebar.

Pada tanggal 2 April 2004 Inne menikah dengan putra pemilik gedung Menara Shaidah, Fahmi Darmawansyah. Namun sampai sekian lama keduanya belum dikaruniai 'momongan', hingga kemudian memutuskan mengadopsi bayi berusia 9 bulan, Muhammad Rahlil Ibrahim pada 2008.