Langsung ke konten utama

Dira Noveriani


Akhir-akhir kita sering melihat seorang gadis manis di sebuah iklan proyek untuk sanitasi yang lebih baik di Indonesia. Dia adalah Dira Noveriani Hanifah 17 tahun, relawan pengajar Sahabat Anak.

Dira kelahiran Jakarta pada 8 November 1997 dari orangtua yang asli kelahiran Jawa ini mengajar di organisasi nirlaba yang menyediakan pendidikan berkualitas untuk anak-anak jalanan di Jakarta. Ia terpilih mewakili anak Indonesia punya gagasan meraih mimpi dalam Project Sunlight dari PT Unilever Indonesia Tbk.
Siswi kelas XII Lab School, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu selalu meluangkan waktu senggangnya pada hari Minggu untuk bertemu anak didiknya di Pasar Rebo. Ia memerlukan waktu sekitar satu jam dari rumahnya di Cimanggis menuju lokasi mengajar.
Dira mendapat tugas mengajar Matematika dan Bahasa Inggris untuk anak-anak usia 7-9 tahun, setiap hari Minggu, mulai pukul 15.00-17.00 WIB. Kegiatan ini telah rutin ia jalankan sejak sekitar enam bulan lalu. Tanpa honor, tanpa pamrih.


Dira bergabung dengan Sahabat Anak karena terdorong ingin mencari wadah yang tepat untuk menumpahkan hasrat sosialnya. Setelah mendapat informasi, ia pun mendaftar dan resmi menjadi relawan Sahabat Anak mulai April 2014.
Selain mengajar Matematika dan Bahasa Inggris, Dira juga getol mengedukasi anak didiknya tentang pentingnya budaya hidup sehat. Ia menularkan cara hidup sehat dari hal paling sederhana, yakni mencuci tangan dan membersihkan diri sehabis buang air.
"Budaya hidup bersih adalah hal kecil yang memberi dampak sangat besar," kata Dira saat ditanya mengenai makna hidup sehat untuknya.
Ia mengatakan, masih banyak orang tua yang masih belum teredukasi tentang kebersihan dan menjadi salah satu kesulitan yang ia hadapi.

“Masih banyak orang tua yang mendukung setengah-setengah. Seperti, ngapain mandi dua kali sehari, kan buang-buang air atau sudah nggak usah cuci tangan kan sudah bersih. Padahal kuman nggak keliatan,” ujar gadis manis yang bersemangat dalam membantu mendidik anak-anak di Indonesia ini. Ia bercerita, waktu mengikuti jambore, mendapati kamar mandi kotor dan air tidak mengalir. "Saya tahan pipis sampai dua hari sampai sakit," katanya.

Dari sana ia terpikir harus melakukan sesuatu. Proyek ini mengedepankan gagasan anak untuk menginspirasi masyarakat agar mau melakukan tindakan nyata dalam upaya menciptakan hari esok yang lebih cerah.
Proyek ini merupakan perwujudan dari Unilever Sustainable Living Plan (USLP) yang bertujuan mengajak jutaan orang di seluruh dunia untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak di generasi mendatang, dengan cara menerapkan hidup yang lebih lestari.

Data UNICEF pada tahun 2013, ribuan anak menderita dan meninggal karena penyakit yang diakibatkan oleh sulitnya mendapatkan akses untuk sanitasi yang layak dan air minum yang bersih dan higienis.
Setali tiga uang, Dira seperti mendapat keuntungan ganda menjalankan kegiatannya sebagai relawan. Pasalnya, kini Dira dapat memenuhi syarat mempunyai pengalaman menjadi relawan untuk masuk di salah satu universitas di Amerika Serikat.
Ya, setelah lulus dari SMA, Dira ingin melanjutkan studi di Negeri Paman Sam tersebut. Bidang studi yang ia ambil adalah psikologi, satu disiplin ilmu yang telah ia sukai sejak di bangku SMP.
Mengenai budaya hidup sehat, Dira anggap itu sebagai hal mutlak. Ia coba menularkan pemahaman itu kepada anak didiknya dengan cara bercerita atau diselipkan di tengah-tengah pelajaran yang ia sampaikan.
Keinginan Dira untuk terjun dan bertindak nyata mewujudkan budaya hidup bersih mulai berkecamuk di dalam benaknya sejak kelas X SMA. Momentumnya adalah saat ia ikut study tour bersama sekolahnya ke sebuah desa di Jawa Barat.
Dira menceritakan, desa yang menjadi lokasi study tour itu cukup terpencil dan saat itu sulit mendapatkan sinyal untuk menggunakan telepon seluler. Di desa itu juga masyarakat setempat masih buang air besar (BAB) di sungai yang airnya juga digunakan untuk mencuci pakaian, mandi, dan memasak.
"Dari situ saya sering complain. Sampai akhirnya saya pikir enggak bisa cuma complain doang. I have to do something. Kalau cuma complain tapi do nothing, ya enggak akan mengubah apa-apa," ujar Dira.

Dari banyaknya pengalaman sebagai relawan pengajar, salah satu hal yang tak bisa dilupakan Dira adalah saat dirinya harus membantu seorang anak membersihkan diri setelah buang air besar (BAB). Dira tak sampai hati karena anak perempuan berusia tujuh tahun itu tidak membersihkan dirinya dengan baik.
"Akhirnya saya yang bantu nyebokin. Ini beneran. Abisnya saya kasihan," ujar Dira.
Pengalaman itu didapat Dira saat menjadi relawan di Jambore Sahabat Anak, Agustus 2014 lalu, di wilayah Jakarta Selatan. Acara tersebut rutin digelar selama dua hari pada setiap tahunnya dan dihadiri ratusan anak dari beberapa daerah di Indonesia.

Putri ketiga dari empat bersaudara itu melanjutkan, dirinya juga terkejut begitu mengetahui masih ada permukiman di Jakarta yang tak memiliki fasilitas BAB memadai. Tempat BAB hanya tersedia di luar rumah, digunakan bersama warga yang berdomisili di permukiman tersebut.
Selama jambore digelar, selama itu juga Dira harus menahan hasrat tidak buang air kecil dan BAB. Alasannya karena kondisi tempat buang hajat yang buruk sehingga Dira tak sampai hati ikut menyumbang potensi penyebaran penyakit.
"Saya nahan pipis selama 48 jam sampai saya sakit, demam," ungkapnya.
Dira menuturkan, buruknya infrastruktur sanitasi ditambah lemahnya kesadaran hidup sehat sangat berdampak buruk bagi generasi masa depan. Masalah ini dapat menyebabkan masyarakat terkena diare. Tak heran, kata Dira, jika diare menjadi penyebab meninggalnya dua pertiga bayi di Indonesia. Apa yang dikerjakan Dira untuk menularkan budaya hidup sehat kepada anak didiknya tentu tak langsung membuahkan hasil. Hidup bersih adalah budaya, hanya kesabaran dan semangat tanpa lelah yang mampu mewujudkannya. Terlebih, anak-anak yang ia ajari telah berusia di atas tujuh tahun, di mana kebiasaan anak-anak telah terbentuk dan perlu kesabaran khusus untuk mengubah kebiasaan itu ke sisi yang lebih positif.
"Anak-anak sebenarnya tahu hidup bersih, tapi sulit membiasakannya," ungkap Dira.

Remaja yang hobi tari-tarian tradisional ini melanjutkan, dirinya ingin menularkan kepedulian hidup sehat kepada semua orang yang ditemui. Dira tak ingin kehilangan harapan. Ia yakin bahwa semangat hidup bersih akan tertanam jika terus dicoba pada setiap waktunya.
Karena kegigihannya mengedukasi anak-anak untuk hidup sehat, Dira pun dipilih dalam Project Sunlight sebagai pemimpin masa depan dari Indonesia untuk menyampaikan gagasannya.

Buat teman-teman yang di rumah dan di mana pun berada dapat berpartisipasi dalam Project Sunlight ini dengan berbagai cara yang mudah melalui situs www.projectsunlight.co.id, misalnya dengan menonton tayangan inpirasional yang secara otomatis Unilever akan menyumbang Rp. 100 dan menuliskan ide-ide untuk #brightfuture mengenai cara membuat perubahan dan setiap ide yang ditulis secara otomatis pula Unilever akan menyumbang Rp. 1.000

Bagi yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi bisa ikut langsung menjadi relawan untuk melakukan edukasi kesehatan dan berinterakasi dengan anak-anak sekolah dasar diJakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan Yogyakarta. Secara otomatis, Unilever akan menyumbang Rp100.000. Dan jika Anda membeli produk Lifebuoy, Pepsodent dan Domestos di Lotte Mart, Unilever juga akan menyumbang Rp 1.000

Seluruh donasi yang terkumpul akan digunakan untuk melakukan edukasi dan membangun penyediaan fasiiltas sanitasi di Sumba, NTT. Unilever juga menggandeng sosok inspirasional di Indonesia yang peduli akan isu sanitasi dan kesejahteraan anak yaitu Mona Ratuliu dan Nugie.

Yuk, sama-sama  dukung Project Sunlight demi mewujudkan masa depan sehat dan agar anak-anak Indonesia terbebas dari penyakit sehingga bisa meraih mimpi dan menciptakan hari esok yang lebih cerah.


 
( sumber Tribunnews, Liputan 6 & Tempo )


Komentar

Pos populer dari blog ini

Kisah Ibu Sri Sumarwati (Ketua Umum Forum Komunikasi PKBM Indonesia, mengumpulkan anak-anak jalanan)

Ibu Sri Sumarwati lahir di Yogyakarta 5 Maret 1957, anak pasangan Slamet Sumitro Darmojo dan Sutiyah (keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta) adalah satu contoh sukses pengelola PKBM dengan basis peserta anak-anak jalanan. Yogyakarta tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya memang tak seindah tampakannya. Hati kita akan trenyuh melihat perkampungan kumuh dan anak-anak jalanan berkeliaran di sekitaran Alun-alun, Malioboro, dan Stasiun Lempuyangan. Tetapi beruntunglah, potret buram kota ini, “dirajut” kembali oleh tangan kasih Ibu Sri Sumarwati. Ibu dua orang anak ini, Nur Anita Owiwanti Putri (35 thn) dan Arifin Owiwanto Putra (33 thn), tak bisa tinggal diam melihat anak-anak jalanan itu, ia mencari dan membawa mereka pulang ke rumahnya : Panti Asuhan “Atap Langit”.

Prigi Arisandi Penyelamat Kali Surabaya

Prigi Arisandi adalah seorang aktivis lingkungan di Surabaya, yang memperjuangkan hak-hak warga untuk menikmati kualitas air sungai yang baik. Kenyataan adanya polusi merkuri yang amat tinggi di dalam kandungan kali Surabaya, dan mengakibatkan berbagai penyakit bagi warga, membuatnya terus berpikir untuk menyelamatkan generasi mendatang dari kecacatan dan rendahnya kualitas manusia.

Prigi, bersama lembaganya, Ecoton menjalankan berbagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas air kali yang bersih. Dia pun tak segan-segan melakukan dorongan kepada pemerintah kota Surabaya untuk mengubah kebijakan yang dirasanya merugikan warga. Selain itu, ia pun mengajak generasi yang lebih muda, untuk ikut secara aktif melawan segala bentuk pencemaran dan perusakan lingkungan.

Inneke Koesherawati

Tahu Inneke Koesherawati kan ? Artis cantik dan anggun ini dikenal juga sangat religius. Ia sangat menomorsatukan pendidikan agama untuk anaknya. Meski sang anak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, namun Inneke tetap memberikan pendidikan agama bagi mereka. Bagi Inneke agama adalah suatu fundamental penting untuk pertumbuhan anaknya nanti.

Inneke Koesherawati lahir di Jakarta, pada tanggal 13 Desember 1975. Ia dikenal sebagai aktris sinetron, bintang iklan dan juga layar lebar.

Pada tanggal 2 April 2004 Inne menikah dengan putra pemilik gedung Menara Shaidah, Fahmi Darmawansyah. Namun sampai sekian lama keduanya belum dikaruniai 'momongan', hingga kemudian memutuskan mengadopsi bayi berusia 9 bulan, Muhammad Rahlil Ibrahim pada 2008.