Langsung ke konten utama

Kisah Ibu Sri Sumarwati (Ketua Umum Forum Komunikasi PKBM Indonesia, mengumpulkan anak-anak jalanan)


Ibu Sri Sumarwati lahir di Yogyakarta 5 Maret 1957, anak pasangan Slamet Sumitro Darmojo dan Sutiyah (keduanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta) adalah satu contoh sukses pengelola PKBM dengan basis peserta anak-anak jalanan. Yogyakarta tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya memang tak seindah tampakannya. Hati kita akan trenyuh melihat perkampungan kumuh dan anak-anak jalanan berkeliaran di sekitaran Alun-alun, Malioboro, dan Stasiun Lempuyangan. Tetapi beruntunglah, potret buram kota ini, “dirajut” kembali oleh tangan kasih Ibu Sri Sumarwati. Ibu dua orang anak ini, Nur Anita Owiwanti Putri (35 thn) dan Arifin Owiwanto Putra (33 thn), tak bisa tinggal diam melihat anak-anak jalanan itu, ia mencari dan membawa mereka pulang ke rumahnya : Panti Asuhan “Atap Langit”.
 

Kisah pengabdian ibu, yang menikah dengan pria asal Maluku bernama Hamim Muhammad Gusa pada tahun 1974 ini, berawal dari “kamar mayat” Rumah Sakit Sardjito. Pada tahun 1987, Ibu Sri harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter mengidentifikasikan radang otak dan komplikasi lever pada tubuhnya. Sakit tak tertahankan membuat ia koma selama hampir tujuh bulan. Dokter sudah memvonisnya meninggal, bahkan keluarga telah menyiapkan upacara pemakaman dan liang lahat untuknya. Ketika masih sadarkan diri, Ibu Sri sempat mengucap sebuah “janji” yang terus dikenang dan menguatkannya dikemudian hari: “Ya Allah, kalau memang hidup lebih bagiku, maka hidupkanlah aku. Namun, jika mati lebih baik bagiku, aku mohon mati. Kalau aku diberi kesempatan hidup lagi, hidupku akan kubaktikan untuk kemanusiaan dan kebajikan.” Dan rencana Ilahi selalu tak terdefinisikan logika manusia. Dia bangun dari tidur panjangnya, meskipun fungsi organ tubuhnya belum sempurna.

Janji yang pernah diucapkannya dan rasa empati yang besar terhadap anak-anak jalanan memanggil Ibu yang bekerja di BKKBN ini turun ke jalan. Setiap hari, berbekal obat luka, plester, dan sedikit makanan, ia mengelilingi kota untuk mencari anak-anak jalanan. Bahkan, di Alun-alun Utara, ia memasak ikan asin dan terasi untuk anak-anak jalanan itu menggunakan anglo. Denagan cara seperti ini, banyak anak-anak jalanan yang berdatangan. Namun, Ibu Sri sangat berhati-hati untuk menentukan anak-anak mana yang hendak dibawanya pulang. Rumah tampungan, dana, dan perasaan lebih bebas tinggal di jalan ketimbang hidup bersamanya adalah beberapa alasan utama.
 

Rasa empati seorang ibu mengalahkan semua kendala ini. Dia mengobrol dengan mereka dari hati ke hati. Dengan pendekatan seperti ini, banyak anak yang mau diajaknya pulang. Mereka yang diajaknya pulang, awalnya berjumlah 17 anak yang semuanya dibiayai sendiri olehnya. Pada Oktober 1993, ia mendirikan “Panti Asuhan Atap Langit”. “Karena anak-anak ini hidup di jalanan, mereka harus diberi pendidikan rohani terlebih dahulu. Setelah itu, baru diajarkan tentang arti hidup, kemandirian, dan disekolahkan,” tutur Ibu Sri. Anak-anak yang berusia masih layak sekolah disekolahkannya di sekolah formal. Sementara anak-anak yang sudah melewati usia sekolah dasar disekolahkannya di sekolah informal Paket B dan C.
Untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan anak-anak ini, Ibu Sri, harus bekerja keras,. Dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, ia berjualan oleh-oleh khas Jogja, pakaian, dan lain-lain, bahkan sampai ke Kulon Progo, Wonosari, dan Salatiga. Sementara anak-anak didikannya dilatih keterampilan bengkel dan aksesoris mobil, membuka salon, menerima pesanan katering, dan membuka toko kelontong. Anak-anak Panti Asuhan Atap Langit, yang pada tahun 1987 berjumlah 73 anak, terus menyongsong masa depan di bawah asuhan Ibu Sri.

Pada tahun 1997, Bu Sri mengikuti pelatihan yang diberikan oleh Departemen Pendidikan Nasional di Jayagiri. Dia diundang sebagai nara sumber dari “Rotary Jogja” bersama rekannya. Ibu Sri sangat terkesan dengan PKBM karena sesuai dengan visi pribadinya memerangi kemiskinan dan kebodohan. Sejak itu pula dia jadi ketua PKBM RCC Garuda (Rotary Community Corps Garuda). Dan pada tahun 1998 dia diundang lagi dengan tujuh rekan dari PKBM dan beberapa undangan untuk pelatihan tentang PKBM dan untuk mendeklarasikan “Forum Komunikasi PKBM Indonesia”. Sejak itu Ibu Sri terus bekerja keras dengan teman-temannya, dan pada tahun itu juga dia bisa mewujudkan cita-citanya membuat Panti Asuhan yang diberi nama “Atap Langit”.

Dia membangun kemitraan dengan beberapa Instansi Pemerintah dan LSM untuk membantu mengentaskan anak-anak jalanan, diantaranya Dinas Sosial, Perindustrian, Koperasi, Kesehatan BKKBN, Departemen Agama, BLK, Tenaga Kerja, Transmigrasi, Lion Club, Rotary, Camat, Lurah, Paguyuban Pedagang dan lain-lainnya.
Cara Bu Sri menangani anak-nak yang termarjinalkan, setelah anak-anak tersebut selesai sekolah paket masih diikutkan pelatihan-pelatihan yang diadakan mitra-mitranya. Setelah mereka mendapat lembaran sertifikat lulus kursus/pelatihan ditambah ijazah paket maka terus dicarikan pekerjaan melalui :
1.      Pejabat tingkat Camat; yaitu melalui para pengusaha yang mengurus ijin usaha (HO) di Kantor Camat dititipkan anak asuh yang sudah siap kerja dengan skill untuk kerja magang, dan biasanya langsung diangkat.
2.      Para pengusaha yang peduli.

Tetapi tidak selamanya perjalanan Ibu Sri dan panti asuhan yang dibinanya berjalan mulus. Kadang, dana proposal tidak cair-cair atau suara-suara sumbang orang-orang sekitar yang menjelekkan. Namun, tekad kuat menghabiskan hidup untuk kemanusiaan serta memerangi kemiskinan dan kebodohan menjadi motivator ulung Bu Sri. Tekad kuat ini pulalah yang mendorong Ibu murah senyum ini untuk menampung berbagai program di bawah PKBM RCC Garuda.

Karena PKBM inilah, rumah berukuran 250 m2 yang digunakan untuk kantor telah menampung berbagai kegiatan. Di bidang pendidikan, PKBM ini menyelenggarakan program beasiswa (pada saat ini, 150 siswa menerimanya secara berkala), PAUD “Ananda Ceria” yang kebanyakan anak didiknya adalah anak-anak pedagang pasar Beringharjo (100 anak), Keaksaraan Fungsional, Program Paket A, B, C (masing-masing 30 anak), KBU warung makan dan kelontong, Taman Bacaan Masyarakat, rehabilitasi korban narkotika (25 anak), pengembangan sosial untuk para tuna susila (20 orang), dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Anak-anak yang diasuhnya juga bukan hanya anak-anak jalanan tetapi para eks narapidana dan wanita tuna susila. Mereka tidak hanya berasal dari sekitaran Jogja, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia seperti korban kerusuhan Maluku, anak-anak dari Papua, dan sebagainya. Anak-anak ini “ditemukan” dan diajak sendiri oleh Bu Sri.

Apa sebenarnya kunci keberhasilannya? Kesabaran. Anak-anak jalanan bukan seperti anak kebanyakan yang mudah diajak. Mereka harus diajak dengan penuh kesabaran dan “kata hati” seorang ibu. Selain itu, kita tidak bisa hanya sebatas simpati, tetapi juga empati dan masuk ke dalam kehidupan mereka, akunya. Berkat kesabarannya selama 20-an tahun, berbagai penghargaan telah disandangkan padanya.
Berikut ini beberapa penghargaan yang telah diterimanya :
  1. Penghargaan sebagai Pekerja Sosial Teladan Nasional Tahun 1993
  2. Pekerja Sosial tingkat Propinsi DIY (1993);
  3. Penyuluh Teladan Gerakan KB Nasional (1995);
  4. PKBM Teladan Nasional (2002);
  5. Salah satu pejuang agar PKBM masuk sebagai salah satu satuan pendidikan dalam UU No. 20/2003.
  6. Bendahara Umum Forum Komunikasi PKBM Indonesia sampai dengan tahun 2011.
  7. Bendahara CLC (Community Learning Center) Internasional periode 2011-2016
  8. Selain itu karena kegigihannya maka dia diangkat menjadi Ketua Umum Forum Komunikasi PKBM Indonesia pada tahun 2011 kemarin.
Tetapi tentu saja bukan tanda-tanda kehormatan itu yang paling membahagiakannya. Pejuang sosial dari Jogja ini paling berbahagia ketika anak-anak asuhnya yang dulunya “dimarjinalkan” masyarakat, sekarang sudah menikah, memiliki keluarga baik, bekerja, ataupun diwisuda. Penyakit masih mengerogoti tubuhnya, tetapi ia berharap agar masih bisa berbuat banyak untuk kebahagiaan orang lain. Tetapi, meskipun tak kuat lagi, ia sudah mewariskan kesabaran, keuletan, simpati, dan perjuangan kepada kedua anak kandung dan anak-anak didiknya.

( sumber: ataplangitjogja.blogspot.com )

Komentar

  1. semoga akan lahir orang orang seperti Beliau ya Bu....Bu Sri Sumarwati bisa jadi inspirasi Ibu Ibu yang lain .kasih sayangnya menyirami jiwa jiwa yang kehilangan kasih sayang .

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Prigi Arisandi Penyelamat Kali Surabaya

Prigi Arisandi adalah seorang aktivis lingkungan di Surabaya, yang memperjuangkan hak-hak warga untuk menikmati kualitas air sungai yang baik. Kenyataan adanya polusi merkuri yang amat tinggi di dalam kandungan kali Surabaya, dan mengakibatkan berbagai penyakit bagi warga, membuatnya terus berpikir untuk menyelamatkan generasi mendatang dari kecacatan dan rendahnya kualitas manusia.

Prigi, bersama lembaganya, Ecoton menjalankan berbagai upaya untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kualitas air kali yang bersih. Dia pun tak segan-segan melakukan dorongan kepada pemerintah kota Surabaya untuk mengubah kebijakan yang dirasanya merugikan warga. Selain itu, ia pun mengajak generasi yang lebih muda, untuk ikut secara aktif melawan segala bentuk pencemaran dan perusakan lingkungan.

Inneke Koesherawati

Tahu Inneke Koesherawati kan ? Artis cantik dan anggun ini dikenal juga sangat religius. Ia sangat menomorsatukan pendidikan agama untuk anaknya. Meski sang anak mendapatkan pendidikan formal di sekolah, namun Inneke tetap memberikan pendidikan agama bagi mereka. Bagi Inneke agama adalah suatu fundamental penting untuk pertumbuhan anaknya nanti.

Inneke Koesherawati lahir di Jakarta, pada tanggal 13 Desember 1975. Ia dikenal sebagai aktris sinetron, bintang iklan dan juga layar lebar.

Pada tanggal 2 April 2004 Inne menikah dengan putra pemilik gedung Menara Shaidah, Fahmi Darmawansyah. Namun sampai sekian lama keduanya belum dikaruniai 'momongan', hingga kemudian memutuskan mengadopsi bayi berusia 9 bulan, Muhammad Rahlil Ibrahim pada 2008.